Hikmah Berpuasa Yang Jarang Diketahui

  • Bagikan
Hikmah Berpuasa Yang Jarang Diketahui
Hikmah Berpuasa Yang Jarang Diketahui

Sebelum masuk ke pembahasan hikmah berpuasa yang jarang diketahui oleh orang-orang, terlebih dahulu kita pahami apa puasa itu. Bagaimana definisi puasa yang benar dalam agama Islam.

Puasa secara bahasa adalah menahan. Murni menahan tanpa ada embel-embel lain. Dengan mengikuti definisi secara bahasa ini, semua yang sifatnya menahan bisa kita kategorikan puasa.

Sedangkan menurut syarak, puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa, dengan cara tertentu, mulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Maksud dari cara tertentu adalah syarat-syarat yang harus terpenuhi, keharusan menjaga semua rukun puasa, dan tidak adanya sesuatu yang menghalangi kebasahan puasa, hingga puasa berhukum sah.

Hikmah Berpuasa Menurut Syarak

Ada beberapa hikmah yang bisa kita dapat dari berpuasa. Berikut di antaranya:

Menjadi Media Untuk Bertakwa Kepada Allah

Pertama, menjadi media untuk bertakwa kepada Allah. Sebab saat nafsu terhalang dari hal-hal mubah yang menjadi kebutuhan dasar, seperti makan dan minum, dengan tujuan mendapat rida Allah dan takut atas siksaan-Nya, maka nafsu akan dengan mudah menghindari hal-hal yang diharamkan dan bisa menghiasi diri dengan takwa.

Oleh karena itu, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah [02]: 183)

Menjadikan Pribadi Ikhlas

Kedua, menjadikan pribadi ikhlas. Sebab orang yang berpuasa tahu tidak ada yang tahu hakikat ibadah puasa yang sedang ia kerjakan kecuali Allah. Juga jika dia mau, dia bisa saja tidak mengerjakan tanpa ada seorang pun yang tahu hal itu. Tidak ada yang bisa menghalangi dari mokel (membatalkan puasa secara diam-diam) kecuali pengawasan Allah kepadanya. Tidak ada yang mendorong dia untuk berpuasa kecauali rida Allah.

Saat nafsu sudah terbiasa dengan cara pandang ini, maka ia akan senantiasa berhias ikhlas. Salah satu hadis qudsi memberikan pemahaman kepada hal ini:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ أُدَمَ لَهُ  إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

“Semua amal manusia untuk mereka sendiri kecuali puasa. Puasa itu aku yang menanggung dan aku pula yang akan memberi dia balasan.”

Mengantarkan Kepada Rasa Syukur

Ketiga, puasa bisa mengantarkan kepada rasa syukur. Sebab dengan tidak bolehnya beberapa hal ketika sedang melaksanakan puasa, seperti makanan, minuman, dan hal-hal mubah lain yang mengandung syahwat, manusia akan sadar betapa berharganya dan betapa butuhnya mereka terhadap nikmat-nikmat itu. Saat menghadapi ujian ini, jiwa akan berterima kasih kepada zat Maha Agung yang telah memberikan segala nikmat. Hati juga akan merasa kasihan dan penuh kasih sayang kepada para fakir-miskin dan mereka yang membutuhkan. Hal ini sudah Allah sampaikan di akhir ayat puasa. Dia berfirman:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ….

“… agar kamu bersyukur.” (Q.S. al-Baqarah [02]: 185)

Merasakan “Siksaan” Allah

Keempat, agar manusia merasakan siksaan Allah di dunia. Manusia melakukan dosa. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana siksaan Allah dengan api neraka. Akhirnya Allah menyuruh mereka berpuasa agar merasakan “api” lapar di dunia. Dengan ini Allah akan menghapus dosa mereka, dan menyelamatkan mereka dari neraka jahanam. (Mursyidul-Awam fi Ahkamish-Shiyam, hlm. 9)

Terhindar dari Bisikan-Bisikan Setan

Kelima, berpuasa bisa membuat diri terhindar dari bisikan setan. Sebab dengan berpuasa, jiwa akan terbiasa dengan bersabar karena lapar, haus, dan syahwat (membatasi keinginan dan tujuan kuat syahwat kepada hal-hal yang nyaman).

Nafsu yang bermain di kubangan syahwat dengan segala bentuk kenikmatan akan sangat mudah menerima tawaran menggiurkan kerusakan dari setan. Karena itu, ruang gerak nafsu harus dibatasi dan diatur dalam menikmati segala kenikmatan yang telah Allah berikan. Pun harus terlatih menghadapi godaan setan.

Pada tujuan puasa ini, Nabi sudah memberi isyarah dalam sabdanya:

يا مَعْشَرَ الشَّبابِ مَنِ اسْتَطاعَ مِنْكُمُ الباءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فإنَّه أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجاءٌ

“Wahai anak muda. Jika kalian mempunyai biaya, silahkan kawin saja karena kawin bisa lebih menjaga pandangan dan kemaluan. Kalau kalian tidak mampu, maka berpuasalah karena puasa bisa menahan.” (H.R. Imam al-Bukhari [7/3 dan Imam Muslim [1018])

Tujuan berpuasa adalah menahan jiwa dari segala kebiasaan buruk, mengurungnya, dan mencegahnya untuk bergaul dengan syahwat. Saat jiwa merasa senang berada di atas orang lain, sombong kepada mereka, atau perilaku-perilaku lain yang dapat menjadi penghalang menuju cahaya ilahi, Allah menjadikan puasa sebagai kekuatan besar yang dapat menghilangkan itu semua. Sampai-sampai, beberapa pintu mukasyafah tidak akan bisa didapat kecuali dengan berpuasa. Sebab puasa bisa menjadi sebab tunduknya hawa nafsu.

Setan tidak akan menggoda jiwa yang tunduk patuh. Dengan demikian, jiwa bisa bisa sampai kepada al-anwar ash-shamadiyah. Karena itu, Nabi bersabda:

لَوْلَا أَنَّ الشَّيَاطِينَ يَحُومُونَ عَلَى قُلُوبِ بَنِي آدَمَ لَنَظَرُوا إِلَى مَلَكُوتِ السَّمَاءِ

“Kalau bukan karena setan mengganggu hati manusia, niscaya mereka akan melihat malakutis-sama (kerajaan langit).

Selain hikmah, puasa juga punya keutamaan sendiri. Rasulullah pernah menyinggungnya dalam beberapa hadis.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.