Sejarah Pemerintahan Abul-Abas As-Safah: dari Menjabat Sampai Wafat

  • Bagikan
Sejarah Pemerintahan Abul-Abas as-Safah
Sejarah Pemerintahan Abul-Abas as-Safah

Meski terkenal punya kontribusi yang luar biasa untuk Abasiyah, As-Safah menjabat sebagai khalifah hanya empat tahun. Berikut rangkuman sejarah pemerintahan as-Safah:

Letakkan Pedang, Pakailah Cambuk

Setelah Abul-Abas as-Safah menjabat, ia memberi jaminan perlindungan kepada Bani Umayah. Namun ia kemudian berpikir bahwa pemerintahan tidak akan pernah stabil kecuali ia memberantas Bani Umayah sampai habis. Pendapat ini didukung oleh mayoritas pasukan. Di antaranya seorang penyair bernama Sudaif (bin Ismail bin Maimun).

Suatu hari, Sudaif menemui as-Safah yang sedang didampingi oleh Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik (keturunan Bani Umayah). As-Safah sudah memberi jaminan perlindungan pada Sulaiman, beserta Bani Umayah yang lain. Sudaif melantunkan syair:

“Jangan sampai engkau tertipu penampilan # Di balik orang lemah tedapat racun berbahaya
Taruhlah pedang, gunakan cemeti # Hingga tidak ada satu pun Bani Umayah di muka bumi”

As-Safah lalu membunuh Sulaiman. Alasan kenapa ia dijuluki “As-Safah” karena banyak membunuh (menumpahkan darah/safah), sebagaimana yang akan kita lihat nanti.

Mayat-Mayat di Bawah Meja Makan

Paman as-Safah, Abdullah bin Ali, punya pemikiran yang sama dengan dia; ide memberantas Bani Umayah.

Abdullah bin Ali mengundang sekitar 90 orang laki-laki Bani Umayah ke satu acara. Ketika mereka sudah berkumpul, Abdullah bin Ali memberi perintah untuk membunuh dan seketika mereka ambruk tergeletak setalah dipukul dengan tongkat.

Bani Abasiyah menghampar permadani dan beberapa makanan di atas Bani Umayah yang sedang tergeletak. Mereka memakan makanan itu sambil mendengar jeritan sakit, dan  tetap melanjutkan makan, sampai semua Bani Umayah mati.

Kali Pertama Perpecahan Daulah Islamiyah

Bani Abasiah terus mengejar keturunan khalifah Bani Umayah dan membunuh mereka. Tidak ada yang selamat, kecuali bayi.

Melihat hal itu, Bani Umayah yang lain (mereka adalah sisa-sisa terakhir Bani Umayah) berpencar dan bersembunyi di banyak tempat. Salah satu yang luntang-lantung adalah Abdur-Rahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul-Malik.

Abdur-Rahman menembus padang pasir-menyebarangi lautan, hingga sampai ke Andalus dan membangun Daulah Umawiyah di sana pada tahun 139 H. Abu Jakfar Al-Manshur menjulukinya “Raja Quraish.” Abdur-Rahman juga mendapat julukan “Ad-dakhil” karena berhasil memasuki Andalusia.

Ini adalah kali pertama terpecahnya Daulah Islamiyah menjadi dua. Tentang masa pemerintahan Abdullah bin Zubair di awal masa-masa Umayah berkuasa, tidak bisa diakui sebagai perpecahan, sebab dia tidak membentuk pemerintahan.

Tiap Revolusi Tidak Akan Lepas dari Gejolak

Perpindahan kekuasan dari Bani Umayah ke Bani Abasiyah adalah revolusi politik yang besar. Revolusi politik, pada masa awal, tidak akan lepas dari gejolak. Hingga pemerintahan yang baru menjadi stabil.

Oleh karena itu, pemerintahan as-Safah, juga tidak lepas dari gejolak, sekalipun dia sangat tegas. Banyak kelompok mencabut baiat dan menyatakan permusuhan. Para pemberontak banyak memakai pakaian putih, agar berbeda dengan simbol Abasiyah (warna hitam).

Berikut beberapa pemberontakan yang terjadi:

Pemberontakan Hubaib bin Murah

Hubaib merupakan panglima perang Marwan bin Muhammad. Ketika Marwan mati, dia takut kepada as-Safah dan menyatakan permusuhan. Penduduk Tasniyah dan Hauran bergabung bersama dia.

Paman as-Safah yang juga sedang menjabat Gubenur Syam, Abdullah bin Ali, berangkat memerangi Hubaib beberapa kali. Abdullah melakukan perdamaian dan menjamin keselamatan Hubaib.

Pemberontakan Abul-Ward

Abul-Ward Majzaah bin al-Kautsar juga termasuk panglima Marwan. Dia mem-baiat as-Safah kemudian mencabut baiat itu. Dia mengajak penduduk Qinsirin untuk memberontak juga.

Abdullah bin Ali, setalah berdamai dengan Hubaib berangkat menuju Abul-Ward. Sebelum itu,dDia menyerahkan Syam kepada Abu Ghanim bin Rubui.

Pemberontakan Penduduk Syam Beserta Abul-Ward

Setalah Gubenur Syam berangkat, penduduk Damaskus memberontak. Meraka membunuh Abu Ghanim dan memeranginya.

Banyak pengikut Abul-Ward menentang Abasiyah. Penduduk Homs dan Palmyra (Tadmira) ikut bergabung.

Abdullah mengirim saudaranya, Abdus-Samad, untuk memerangi Abul-Ward. Sayang, dia malah mendapat kekalahan.

Terbunuhnya Abul-Ward

Ketika Abdus-Samad kalah, saudaranya mengumpulkan pasukan dan memerangi Abul-Ward di Marjil-Akhram sampai pasukan Abul-Ward kalah.

Abdullah menjamin keselamatan penduduk Qinsirin. Meraka membaiat dan mau taat. Abdullah lalu pulang ke Damaskus. Pemberontakan ini terjadi pada tahum 132 H.

Pemberontakan Penduduk Jazirah

Penduduk Jazirah memberontak di bawah komando Ishak bin Muslim al-Aqili. As-Safah berjanji kepada saudaranya, Abu Jakfar al-Manshur, untuk memerangi mereka.

Ibnu Muslim pergi menuju Ruha (Edessa) dan mengirim pasukan untuk memerangi Abu Jakfar. Perang tidak menguntungkan Ibnu Muslim. Ia pergi ke Samosata. Tapi Abu Jakfar terus mengikuti dan mengepungnya selama 17 hari.

Pada akhirnya, Abu Jakfar menandatangani perdamaian dan menjamin keamanan Ishak bin Muslim. Ini terjadi pada tahum 132 H.

Pemberontkan Basam bin Ibrahim

Basam bin Ibrahim juga menyatakan perlawanan di Madain. As-Safah mengirim Khazim bin Khuzaimah untuk memeranginya. Khazim berhasil menundukkan dan mengalahkan Basam.

Pemberontakan Khawarij

Khawarij di bawah pimpinan Syaiban bin Abul-Aziz menyatakan perlawanan. Lagi, as-Safah mengirim Khazim bin Khuzaimah untuk memerangi mereka. Khazim berhasil mengalahkan Khawarij dan membunuh Syaiban.

Pemberontkan Ibnu Hubairah

Salah satu kejadian yang membekas yang terjadi pada masa-masa pemberontakan ini adalah terbunuhnya Yazid bin Umairah bin Hubairah, salah satu gubenur dan orang yang mendukung Umawiyah. Dia dibunuh di depan keluarganya dengan tragis dan menyedihkan setalah perundingan. Pemberontakan ini terjadi pada tahun 132 H.

Pemberontakan Yang Menarik Romawi

Sudah pasti Bangsa Romawi merasakan kelemahan Daulah Islamiyah dengan banyaknya pemberontakan. Raja Costantine mengirim pasukan untuk merebut Malatya.

Pasukan Romawi berhasi menguasai Malatya dengan damai, setelah pengepungan yang lama. Mereka juga berhasil menguasai Qalqila, salah satu daerah di Mardin (Turki). Perebutan ini terjadi pada tahun 133 H.

Pusat Pemerintahan Pertama Dinasti Abasiyah

Di antara hal yang sangat mendasar bagi sebuah dinasti pemerintahan adalah membangun pusat pemerintahan untuk raja-raja mereka. Kita mengenal pusat pemerintahan semacam ini dengan sebutan “Ibu kota.”

Jika pusat pemerintahan Khulafaur-Rasyidin ada di Madinah, Dinasti Umayah ada di Damaskus, maka untuk Dinasti Abasiyah, as-Safah telah membangun kota khusus di Al-Anbar yang ia beri nama “Al-Hasyimiyah” untuk dijadikan pusat pemerintahan. Al-Hasyimiyah adalah pusat pemerintahan pertama Dinasti Abasiyah.

Sebelum itu, as-Safah mondar-mandir antara kota Kufah dan Hirah. Selanjutnya, Baghdad dan Samara akan menjadi pusat pemerintahan kedua, dan Mesir akan menjadi pusat pemerintahan ketiga Dinasti Abasiyah.

Menteri Pertama dalam Islam

Sebelum Dinasi Abasiyah, Islam tidak mengenal konsep menteri yang bersifat konstitusional. Tiap Khalifah atau raja memiliki pengikut atau orang dekat. Jika terjadi sesuatu, mereka meminta pendapat para penasihat. Masing-masing memosisikan diri layaknya menteri.

Setelah Bani Abbas berkuasa, mereka menetapkan jabatan menteri (wazir) dan memanggilnya “Menteri.” Sebelum itu, hanya ada panggilan “Sekretaris” atau “Penasihat.”

Menteri pertama Khalifah pertama Abasiyah adalah Abu Salamah al-Khilal. Dia adalah menteri pertama, yang mendapat panggilan “Menteri” dalam Islam. Setelah Abu Salamah al-Khilal, Abul-Jaam diangkat menjadi menteri.

Infografis Sejarah Abul-Abas as-Safah
Infografis Sejarah Abul-Abas as-Safah

As-Safah Wafat

As-Safah wafat di Hasyimiyah pada tahun 136 H sebab penyakit cacar. Umur dia waktu itu 33 tahun.

Masa pemerintahan as-Safah adalah empatt tahun. Secara singkat, kiprahnya dipenuhi dengan sifat keras dan tegas.

Sebelum meninggal, dia memberikan jabatan khilafah kepada saudaranya, Abu Jakfar al-Manshur.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.