Keutamaan Berpuasa Menurut Hadis

  • Bagikan
Keutamaan Berpuasa Menurut Hadis
Keutamaan Berpuasa Menurut Hadis

Ada banyak sekali hadis yang menerangkan fadilah dan balasan pahala tentang puasa. Di bawah ini, kami sudah merangkum 5 keutamaan berpuasa menurut hadis.

Mendapat Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Salah satunya satunya adalah hadis yang menerangkan tercapainya kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang yang berpuasa. Nabi bersabda:

للِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ

“Ada dua kebahagian bagi orang berpuasa: bahagia saat berbuka puasa dan bahagia saat bertemu dengan Tuhannya.” (H.R. Imam al-Bukhari [2/673] dan Imam Muslim [2/806])

Menjauhkan dari Api Neraka

Berpuasa selama satu hari bisa menjauhkan dari api neraka selama tujuh puluh tahun. Nabi bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barang siapa yang berpuasa selama satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan dia dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” (H.R. Imam al-Bukhari [3/1044] dan Imam Muslim [2/808])

Menjadikan Derajat Mulia

Hadis lain menerangkan puasa dapat membuat seorang menjadi mulia di akhirat dengan memasukinya lewat pintu “Rayan.” Pintu ini adalah pintu khusus untuk mereka yang berpuasa. Nabi bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ: الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ

“Di surga ada datu pintu yang Bernama ‘Rayan.’ Dari pintu ini orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat. Selain mereka, tidak akan ada yang akan masuk lewat pintu itu. Ada yang memanggil, ‘Mana yang puasa?’ Mereka lalu masuk melewati pintu itu. Setelah semua masuk, pintu itu dikunci dan tidak ada yang masuk lewat pint utu lagi.” (H.R. Imam al-Bukhari [2/671] dan Imam Muslim [2/808])

Rida Allah dan Saksi-Nya Tentang Bau Mulut Orang Berpuasa

Ada hadis lain yang menyaksikan ahwa Allah telah ridha kepada orang yang berpuasa, dan tentang bau mulutnya. Nabi bersada:

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Demi zat yang menuasai diri ku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari wangi kasturi.” (H.R. Imam al-Bukhari [2/670] dan Imam Muslim [2/806])

Baca Juga: Hukum Membayar Hutang Puasa Ramadhan Bagi Wanita

Memiliki Posisi Spesial

Selain pahala, puasa memiliki pembeda dari ibadah lain. Nabi bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، اَلْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَّاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَ

“Semua amal manusia dilipatgandakan. Satu kebaikan bisa dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa. Puasa untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya. Dia telah meniggalkan syahwat dan makanan karena-Ku’.” (H.R. Imam al-Bukhari [7/164] dan Imam Muslim [2/806])

Maksud dari “Kecuali puasa. Puasa untuk-Ku” adalah kata lain dari “Puasa itu murni ikhlas karena-Ku, bukan yang lain.” Sebab puasa adalah ibadah yang bisa dilihat oleh orang lain. Tidak ada yang tahu kecuali Allah dan orang yang berpuasa itu sendiri.

Puasa menjadi ibadah eksklusif antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena itu, Allah langsung menyandangkannya kepada-Nya. Juga menjadikan pahala puasa tanpa hisab karena hamba tidak akan bisa menjalaninya kecuali dengan bersabar. Allah berfirman:

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (Q.S. az-Zumar [39]: 10)

Sabar sendiri memiliki tiga macam. 1) Sabar untuk taat kepada Allah, 2) Sabar atas segala sesuatu yang Allah haramkan, dan 3) Sabar atas segala rasa sakit dan cobaan-cobaan. Tiga macam sabar ini semuanya ada dalam ibadah puasa. Sebab berpuasa mengandung sabar atas kewajiban taat kepada Allah, sabar atas segala syahwat yang Allah haramkan, dan sabar atas rasa sakit menahan lapar, haus, dan lemasnya badan, untuk mendapat rida-Nya.

Dengan segala hal yang terkandung dalam puasa, Allah mengkhususkan ibadah ini untuk zat-Nya sendiri dan tidak mewakilkannya kepada malaikat. Allah sendiri yang akan membalasnya. Dia akan memberi pahala yang tak terbatas. “Aku yang akan membalasnya” kata lain dari “Aku akan memberi dia pahala atas kemulian rububiyah bukan hak-hak ubdudiyah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.