Hukum Membayar Hutang Puasa Ramadhan Bagi Wanita

  • Bagikan
Hukum Membayar Hutang Puasa Ramadhan Bagi Wanita
Hukum Membayar Hutang Puasa Ramadhan Bagi Wanita

Tidak terasa, sebentar lagi kita akan segera memasuki Bulan Ramadhan. Bulan yang selalu kita rindukan, dan selalu memiliki segudang cerita. Kita tidak akan pernah bisa membohongi diri kita dengan mengatakan kita tidak senang dengan tibanya bulan ini.

Namun, segala bentuk kesenangan kita menyambut Bulan Puasa, jangan sampai membuat kita melupakan satu hal; hutang puasa. Terutama bagi yang ukhti-ukhti. Dari segala hal yang tidak pasti di dunia, ada satu hal yang bisa kita pastikan; setiap perempuan di setiap Ramadhan pasti ada yang memiliki hutang puasa. Tentu alasannya kita semua tahu: haid. Haid membuat perempuan tidak bisa melaksanakan salat, puasa, jimak, dll.

Ada pertanyaan menarik sebenarnya terkait kajian hutang puasa muslimah. Jika haid – yang menjadi agenda bulanan pasti perempuan di seluruh dunia – tidak mewajibkan mengqadhai salat yang bolong, lalu apakah ini juga berlaku untuk puasa? Jadi apa sebenarnya hukum membayar hutang puasa Ramadhan bagi wanita?

Hukum Mengqadhai Puasa Bagi Wanita

Ada beberapa hadis yang memang menunjukkan perbedaan hukum antara qadha salat dan puasa. Memang perempuan tidak wajib mengqadahi salat yang telah dia tinggalkan karena haid. Namun ini tidak berlaku untuk puasa.

Dalam hadis yang dirwayatkan oleh Imam Muslim, Sayidah Aisyah pernah mendapatkan pertanyaan dari seorang tentanga hukum mengqadhai salat dan puasa. Jawaban Sayidah Aisyah singkat dan jelas, “Kita memang telah dipertintahkan untuk mengqadhai puasa, tidak salat.”

Imam Muslim (juz 1, hlm. 265) dari sahabat Mu’adzah meriwayatkan tiga hadis berkenaan dengan masalah ini. Tiga hadis tersebut memiliki jalur yang berbeda-beda. Yang pertama dari Abur-Rabi ar-Rahwani. Muhammad bin al-Mustanna yang kedua. Sedangkan hadis yang ketiga dari Abd bin Humaid.

Kami akan menampilkan hadis dari Abd bin Humaid:

وحَدَّثَنا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، أخْبَرَنا عَبْدُ الرَّزّاقِ، أخْبَرَنا مَعْمَرٌ، عَنْ عاصِمٍ، عَنْ مُعاذَةَ، قالَتْ: سَألْتُ عائِشَةَ فَقُلْتُ: ما بالُ الحائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، ولا تَقْضِي الصَّلاةَ. فَقالَتْ: أحَرُورِيَّةٌ أنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، ولَكِنِّي أسْألُ. قالَتْ: «كانَ يُصِيبُنا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضاءِ الصَّوْمِ، ولا نُؤْمَرُ بِقَضاءِ الصَّلاةِ»

“Sahabat Mu’adzah berkata, ‘Aku bertanya kepada Sayidah Aisyah, bagaimana bisa seorang haid harus mengqadhai puasa ramadhan, tapi tidak mengqadhai salat?’ Beliau balik bertanya, “Apakah kamu dari Desa Harurah?’ Aku menjawab, ‘Tidak. Diriku tidak berasal dari Harurah. Aku sekadar bertanya.’ Beliau melanjutkan, ‘Aku pernah mengalami itu semua. Namun aku hanya diperintah mengqadhai puasa dan tidak diperintah mengqadhai salat’.”

Selain Imam Muslim, Imam Bukhari juga meriwayatkan hadis ini dalam kitab Sahih-nya.

Dari hadis ini tentu sudah bisa kita ambil satu kesimpulan, bahwa hukum membayar hutang puasa bagi wanita adalah wajib. Sebab Sayidah Aisyah sendiri yang memberitahu, bahwa yang menjadi perintah hanyalah qadha puasa. Untuk salat, tidak ada perintah langsung.

Hukuman Mereka Yang Tidak Mengqadhai Puasa Sampai Masuk Bulan Ramadhan Lagi

Ketika kita tahu bahwa qadha puasa ramadhan wajib, maka mari kita pindah kepada pembahasan berikutnya. Yaitu kafarah (hukuman) sorang yang tidak mengqadhai puasanya sampai masuk bulan Ramadhan berikutnya.

Ulama ternyata terpecah menjadi dua kelompok. Berikut perinciannya:

  1. Jumhur ulama, meliputi Syafi’iyah (al-Majmu, 6/364), Malikiah (at-Tamhid Libni Abdil-Bar, 7/162) dan Hanabilah (al-Mughi, 3/40). Menurut tiga mazhab ini orang yang tidak mengqdhai puasa sampai ketemu Bulan Ramadhan lagi, selain wajib qadha, dia juga wajib bayar fidyah. Fidyah-nya adalah memberi makan fakir-miskin. Untuk satu harinya harus memberi satu mud.
  2. Hanafiyah. Mazhab yang lebih memberi akal porsi ini mengatakan tidak wajib membayar fidyah. (Badai’ush-Shanai’, 2/104)

Semoga bermanfaat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.