Detik Akhir Pemerintahan Marwan bin Muhammad (I)

  • Bagikan
Detik Akhir Pemerintahan Marwan bin Muhammad
Detik Akhir Pemerintahan Marwan bin Muhammad

Pukulan Telak Pada Bani Umayah

Telah kamu ketahui dari jilid ketiga, Marwan bin Muhammad al-Ja’di atau yang dijuluki al-Khimar menjadi khalifah saat kekacauan internal terjadi sedemikian rupa dalam Dinasti Umayah. Dia berusaha untuk meredamnya tapi terhalangi pemberontakan besar, yakni pemberontakan Abu Muslim al-Khurasani. Pemberontakan itu adalah pukulan telak bagi Dinasti Umayah di Timur sekaligus menjadi detik akhir pemerintahan Marwan bin Muhammad.

Siapa Abu Muslim Al-Khurasani?

Abu Muslim adalah lelaki yang memiliki nama asli Abdur-Rahman bin Muslim. Ia lahir di kota Isfihan dan tumbuh dewasa di Kufah, lalu dia bergabung dengan Ibrahim al-Imam bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abas. Dia mengubah nama dan memberi kunyah pada dirinya sendiri, “Abu Muslim.”

Ibrahim al-Imam mengkader Abu Muslim al-Khurasani dan mendidiknya hingga kemudian muncul ke permukaan menggulingkan Dinasti Umayah secara total. Abu Muslim memiliki julukan Rajulud-Daulah al-Abasiyah, tokoh Dinasti Abasiyah.

Nasr Bin Sayar dan Al-Karmani

Telah anda ketahui di juz tiga juga, juru kampanye Dinasti Abasiyah tersebar di Khurasan. Waktu itu, Gubernur Khurasan dari pihak Marwan bin Muhammad adalah Nasr bin Sayar.

Jadi’ bin Ali al-Azdi, yang terkenal dengan julukan al-Karmani pergi menlawan Nasr. Kelompok Arab Yaman bergabung bersama dia dan berhasil merebut Marwa.

Nasr tidak tinggal diam. Giliran kelompok Arab Mudar yang bergabung. Dari kejadian ini, negara menjadi terpecah-pecah.

Kampanye Terang-Terangan dan Serangan Militer

Abu Muslim memanfaatkan peluang dari terpecahnya Khurasan dan dari perselisihan yang terjadi antara Nasr bin Sayar dan al-Karmani. Ia mulai berkampanye terang-terangan, mengajak kepada Ibrahim al-Imam. Hal ini terjadi pada 129 H. di daerah Marwa. Kampanye terang-terangan ini terjadi setelah sekian lama kampanye dilakukan secara diam-diam.

Abu Muslim mengirim beberap utusan ke Khurasan untuk melakukan kampanye secara terbuka. Masyarakat menyambutnya dengan baik.

Dia dan Nasr sempat saling bertukar surat. Tapi tak lama, mereka lalu berperang. Abu Muslim membunuh sebagian besar pasukan Nasr dan menjarah harta mereka. Pengaruh Abu Muslim semakin besar dan pemberontakan semakin meluas.

Aku Melihat Kobaran Api dari Sela-Sela Debu

Ketiak Nasr bin Sayar melihat pengaruh Abu Muslim yang besar – serta pemberontakan semakin meluas dan al-Karmani terus melawan – ia menulis surat kepada Marwan bin Muhammad menjelaskan keadaan yang sedang terjadi. Di surat itu tertulis syair:

“Aku melihat kobaran api dari sela-sela abu # Aku takut kobaran api itu semakin membesar

Api bisa membesar karena kayu # Sedangkan perang permulaanya adalah kata

Jika orang berakal tidak meredamnya  #  Bahan bakarnya adalah mayat-mayat dan rasa sedih

Aku berkata dengan heran # sedangkan Bani Umayah malah terlena

Jika betul mereka sedang tertidur # Bangkitlah! Sebab sudah tiba saatnya”

Menahan Pimpinan Abbasiyah

Marwan tidak menjawab surat dari Nasr. Dia ingin mencabut gejolak dari akar-akarnya; dia tahu Ibarahim al-Imam beserta keluarganya berada di Syam, di daerah “Al-Hamimah.”

Marwan mengirim gubernurnya di Balqa untuk memanggil Ibrahim al-Imam dan menjamin keselamatannya. Gurbenur itu berhasil mengirimkan Ibrahim dan Marwan berhasil menangakap dan memenjarakan Ibrahim al-Imam sampai mati di penjara.

Wasiat Ibrahim al-Imam Kepada Abul-Abas as-Safah

Saat ditangkap, Ibrahim al-Imam menulis surat kepada keluarganya mengabarkan nasib naas yang menimpa. Ia memerintahkan mereka pergi ke Kufah bersama sang adik, Abdullah, atau yang lebih masyhur dengan Abul-Abas as-Safah. Ia juga mewasiatkan kepemimpinan kepada as-Safah.

Tak lama, as-Safah pergi bersama keluarga menuju Kufah, di antaranya ada Abdullah, atau yang masyhur dengan Abu Jakfar al-Mansur, juga salah satu saudara as-Safah. Meraka tinggal dan bersembunyi di sana.

Pembunuhan dan Penyaliban al-Karmani

Sudah kita ketahui tadi, al-Karmani berhasil menguasai Marwa dan mendapat dukungan dari kelompok Arab-Yaman. Situasi semakin carut-marut, Nasr mengutus tentara untuk membunuh al-Karmani. Waktu itu, Abu Muslim al-Khurasani berusaha menggembosi dua belah pihak.

Ketika perang berkecamuk, Nasr mendapati al-Karmani lengah dan langsung memukulnya hingga tewas. Tak hanya membunuh, Nasr juga menyalib jasad al-Karmani.

Balas Dendam Anak al-Karmani

Ali al-Karmani bangkit bermaksud membalas dendam ayahnya. Ada banyak yang bergabung, termasuk Abu Muslim al-Khurasani. Bersama, mereka memerangi Nasr dan mengeluarkannya dari kantor pemerintahan. Kedua kalinya, Ali al-Karmani behasil menguasai Marwa.

Nasr ingin merangkul Ali al-Karmani, dia tida mungkin menghadapi Abu Muslim sendiri. Tapi, Ali al-Karmani malah berkoalisi memerangi Nasr. Koalisi itu menang. Nasr kabur dan menginggal di Sawah/Sawat pada tahun 131 Hijriyah pada umur 85 tahun.

(Seri terjemahan kitab at-Tarikh al-Islami karangan Syekh Muhyid-Din al-Khayat)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.