Cerita Tawakal Di Balik Ayat 5-10 Surat al-Lail

  • Bagikan
Cerita Tawakal Di Balik Ayat 5-10 Surat al-Lail
Cerita Tawakal Di Balik Ayat 5-10 Surat al-Lail

Surat al-Lail adalah surat al-Quran yang ke-92. Jumlah ayatnya tidak terlalu banyak. Hanya sampai ayat 21 dengan ayat yang tidak terlalu panjang-panjang. Di ayat ke 5-7 ada cerita menarik tentang tawakal.

Cerita ini berasal dari makhluk terbaik dan generasi terbaik umat Islam. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah beserta para sahabat. Satu kisah yang dapat memberi kita pelajaran tentang tawakal. Membuat kita sadar atas sesuatu yang jarang orang-orang lihat. Mari bersama merenungi cerita ini.

Cerita Lengkap Tentang Tawakal dari Surat al-Lail

Suatu ketika, para sahabat ada di samping jenazah di Baqi. Rasulullah lalu datang. Beliau duduk di sekitar mereka. Beliau lalu bersabda, “Tidak lah salah satu dari kalian kecuali Allah telah menentukan kepadanya surga atau neraka dan bahagia atau celaka.”

Salah seorang sahabat ada yang langsung menjawab, “Kalau begitu, tidak kita tawakal saja kepada apa yang menjadi keputusan Allah dan tidak usah melakukan amal apapun?”

Rasulullah menjawab, “Tetap lah beramal! Segala sesuatu menjadi mudah saat Allah menakdirkan-Nya ke sana. Jika memang kita termasuk orang-orang yang Allah takdirkan bahagia di akhirat kelak, maka amal kita di dunia tentu adalah amal orang-orang yang bahagia di akhirat. Sebaliknya, kalau Alah menakdirkan kita termasuk orang yang celaka, maka amal kita di dunia adalah amal orang yang celaka.

Orang yang Allah takdirkan surga akan mudah melakukan amal ahli surga. Dan begitu juga sebaliknya.”

Setelah itu Rasulullah langsung membaca surat al-Lail ayat ke-5 sampai ke-7. Bunyi surat al-Lail ayat 5-10 sebagai berikut:

فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰ

(5) Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,

وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ

(6) dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga),

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ

(7) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan),

وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ

(8) dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah),

وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ

(9) serta mendustakan (pahala) yang terbaik,

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ

(10) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan).

Hadis diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Teks hadis ada di sini

Yang Bisa Kita Pelajari

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini? Yang dapat kita pelajari adalah perenungan diri tentang amal dan takdir kita.

Memang betul Allah telah menulis takdir kita bahkan sebelum kita lahir. Takdir jodoh, kematian, umur, dan juga surga dan neraka. Akan kemana kita nanti, Allah telah menentukannya. Tetapi apakah kita bisa begitu saja pasrah dan meninggalkan ketaatan? Jawabannya tidak!

Sebab segala sesuatu yang telah Allah tentukan ternyata memiliki “tanda.” Jika orang itu takdirnya adalah surga, maka tandanya adalah dia mudah melakukan ketaatan kepada Allah. Dan bila takdirnya adalah neraka, maka tandanya adalah dia kesulitan beramal.

Maka tawakal tetap wajib kita lakukan. Takdir tetap wajib kita yakini. namun tawakal yang tanpa amal perlu kita jadikan muhasabah. Takutnya, kita sendiri sudah membuka satu pintu menuju neraka, dengan sadar diri tidak beramal.

Tetapi tentu hal ini tidak selayaknya kita jadikan sebagai alat untuk mengukur orang lain. Sebab kita tidak tahu seluk beluk amal dan juga hati seseorang. Apa yang telah dijelaskan di atas, murni untuk muhasabah diri sendiri. Jika amal kita masih lelet, mari lebih semangat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.